Jerawat Hormonal - gambar unggulan

Apa Itu Jerawat Hormonal: Penyebab, Metode Perawatan, dan Tips Pencegahan

Jerawat lebih dari sekadar masalah kulit di permukaan. Jerawat mencerminkan interaksi kompleks antara hormon, kelenjar kulit, dan peradangan. Jerawat berkembang ketika folikel rambut kecil dan kelenjar sebasea (minyak) menjadi terlalu aktif dan meradang.

Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap pembentukan jerawat:

  • Perubahan hormonal: Androgen merangsang kelenjar sebasea untuk memproduksi lebih banyak minyak, sehingga meningkatkan kemungkinan tersumbatnya pori-pori.
  • Penumpukan sel kulit: Sel kulit mati menumpuk dan menyumbat folikel rambut, membentuk komedo putih dan komedo hitam.
  • Bakteri: Mikroorganisme seperti Bakteri Cutibacterium acnes berkembang biak di pori-pori yang tersumbat dan memicu peradangan.
  • Faktor genetik dan gaya hidup: Riwayat keluarga, pola makan, stres, dan kebiasaan perawatan kulit tertentu dapat memengaruhi tingkat keparahan dan persistensi jerawat.


Menghadapi jerawat yang terus-menerus muncul di usia dewasa bisa membuat frustrasi, terutama ketika rasanya semua upaya yang Anda lakukan tidak membuahkan hasil. Perubahan hormon seringkali berperan, membuat kulit tidak stabil dan sulit diatur. Bagi banyak orang, kambuhnya jerawat hormonal ini lebih dari sekadar masalah kosmetik. Jerawat ini dapat memengaruhi harga diri dan kepercayaan diri, membuat interaksi dan aktivitas sehari-hari terasa lebih menegangkan daripada seharusnya.

Kabar baiknya, memahami faktor-faktor pemicu kambuhnya jerawat dan menerapkan pendekatan yang tepat dapat membantu mengurangi jerawat dan mengembalikan kendali atas kulit Anda. Dalam artikel ini, kami akan membahas aspek-aspek penting jerawat hormonal, termasuk penyebabnya, gejala umum, dan tips pencegahannya. Kami juga akan membahas pilihan perawatan yang dapat membantu mengurangi kambuhnya jerawat dan mendukung kulit yang lebih sehat dan bersih.

Apa Itu Jerawat Hormonal?

Jerawat hormonal, juga dikenal sebagai jerawat dewasa, umumnya menyerang individu berusia antara 20 dan 50 tahun. Jerawat ini berkembang ketika fluktuasi kadar hormon merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi sebum berlebih. Produksi berlebih ini menyumbat pori-pori, yang menyebabkan jerawat.

Meskipun jerawat hormonal lebih sering terlihat pada wanita, pria juga dapat mengalaminya, terutama selama masa pubertas atau jika mereka memiliki kelainan hormonal.

Jerawat hormonal dapat muncul di wajah, bahu, dada, dan punggung, dan sering kali muncul sebagai:

  • Jerawat
  • Komedo
  • Komedo putih
  • Kista

Jerawat hormonal dipengaruhi oleh kombinasi ketidakseimbangan hormon, faktor gaya hidup, dan kecenderungan genetik.

Ketidakseimbangan hormon

Perubahan hormonal dalam tubuh merupakan pemicu utama jerawat pada pria dan wanita.

  • Menstruasi, kehamilan, dan mati haid: Fluktuasi kadar hormon selama periode ini dapat memicu jerawat hormonal.
  • Penghentian pengendalian kelahiran: Menghentikan penggunaan alat kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan perubahan kadar hormon, yang menyebabkan timbulnya jerawat.
  • Pengobatan testosteron pada pria: Perawatan semacam itu dapat meningkatkan produksi minyak, yang berpotensi menyebabkan jerawat.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan gangguan ovarium atau metabolik lainnya: Kondisi ini dapat menyebabkan jerawat hormonal, yang sering kali menyebabkan lesi yang lebih dalam dan menyakitkan di sepanjang garis rahang dan dagu.
  • Gangguan tiroid: Hipotiroidisme dan hipertiroidisme dapat mengganggu keseimbangan hormon, secara tidak langsung memengaruhi androgen dan memperburuk jerawat.
  • Pubertas dan siklus menstruasi: Lonjakan androgen selama masa pubertas meningkatkan produksi minyak, sementara banyak wanita mengalami gejala-gejala tersebut tepat sebelum menstruasi akibat perubahan hormonal yang bersifat siklus.


Faktor gaya hidup

Kebiasaan sehari-hari dan pilihan gaya hidup dapat memengaruhi kadar hormon dan memperburuk jerawat.

  • Menekankan: Stres meningkatkan kadar kortisol, yang merangsang produksi sebum dan mengganggu hormon lain, sehingga memperburuk jerawat.
  • Kurang tidur: Mengalami kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan peradangan, dan dapat memperparah jerawat.
  • Produk perawatan kulit dan rambut: Menggunakan produk yang tidak bebas minyak, non-komedogenik, atau non-acnegenic dapat menyumbat pori-pori dan memicu timbulnya jerawat.
  • Diet: Gula olahan, makanan olahan, dan karbohidrat glikemik tinggi dapat meningkatkan kadar insulin, merangsang produksi androgen dan memperburuk jerawat.


Genetika dan obat-obatan

Genetika dan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi risiko Anda terkena jerawat hormonal.

  • Riwayat jerawat dalam keluarga: Predisposisi genetik dapat memengaruhi bagaimana kelenjar sebasea merespons androgen dan bagaimana kulit menyembuhkan jerawat, sehingga meningkatkan kemungkinan timbulnya jerawat hormonal.
  • Obat-obatan tertentu: Steroid dan obat lain yang mengubah kadar hormon dapat memicu jerawat.

Mendiagnosis jerawat hormonal melibatkan lebih dari sekadar melihat jerawat di kulit. Dokter akan mengambil pendekatan komprehensif untuk memastikan apakah hormon merupakan faktor pemicu jerawat yang persisten atau parah.

Evaluasi klinis

Diagnosis biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik. Dokter Anda akan memeriksa tanda-tanda yang mengarah pada jerawat hormonal, seperti jerawat yang terkonsentrasi di sepanjang garis rahang, dagu, dan pipi bagian bawah, atau lesi kistik yang dalam dan nyeri. 

Tinjauan menyeluruh terhadap riwayat kesehatan Anda juga penting. Ini mungkin mencakup riwayat kondisi kulit, gangguan hormonal seperti PCOS, riwayat jerawat keluarga, pengobatan yang sedang Anda jalani, dan faktor gaya hidup seperti stres atau pola tidur.

Tes hormonal

Jika dicurigai adanya ketidakseimbangan hormon, dokter Anda mungkin akan merekomendasikan tes darah. Tes ini dapat mengukur kadar androgen dan membantu mengidentifikasi kondisi seperti PCOS atau kelainan kelenjar adrenal. Misalnya, PCOS dapat menyebabkan peningkatan androgen, siklus menstruasi tidak teratur, dan resistensi insulin, yang semuanya dapat memperparah jerawat. 

Tes fungsi tiroid juga dapat dilakukan, karena gangguan tiroid dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu munculnya jerawat. Jika Anda menduga jerawat Anda mungkin terkait hormon, pertimbangkan untuk melakukan tes fungsi tiroid. pemesanan konsultasi bersama kami untuk menerima penilaian dan rencana perawatan yang disesuaikan.

Mengatasi jerawat hormonal seringkali membutuhkan pendekatan khusus yang mengatasi gejala yang muncul di permukaan maupun ketidakseimbangan hormon yang mendasarinya. Pilihan pengobatannya beragam, mulai dari krim topikal hingga obat oral dan prosedur profesional di klinik, tergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Perawatan yang paling tepat akan bergantung pada kebutuhan individu Anda dan akan direkomendasikan oleh dokter Anda.

Perawatan topikal

Obat topikal mungkin direkomendasikan untuk jerawat ringan hingga sedang. Obat ini bekerja dengan membuka pori-pori yang tersumbat, mengurangi bakteri, dan mengendalikan peradangan pada permukaan kulit. Pilihan yang umum meliputi:

  • Retinoid (misalnya tretinoin): Retinoid meningkatkan pergantian sel kulit dan mencegah pori-pori tersumbat.
  • Benzoil peroksida:Benzoil peroksida membunuh bakteri penyebab jerawat dan mengurangi minyak berlebih.
  • Antibiotik topikal (misalnya klindamisin, eritromisin): Obat-obatan ini sering digunakan bersama dengan benzoil peroksida untuk menurunkan risiko resistensi antibiotik.


Obat oral

Untuk jerawat hormonal sedang hingga parah atau persisten, obat oral dapat diresepkan. Obat-obatan ini bekerja secara internal untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon, produksi minyak berlebih, atau pertumbuhan bakteri berlebih. Pilihannya antara lain:

  • Kontrasepsi oral:Kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur hormon dan mengurangi jerawat pada wanita dewasa.
  • Anti-androgen (misalnya spironolactone, cyproterone acetate): Obat-obatan ini menghambat efek androgen dan menurunkan produksi sebum.
  • Antibiotik oral (misalnya doksisiklin atau minosiklin): Dengan mengurangi pertumbuhan bakteri dan peradangan, antibiotik oral membantu mengelola jerawat yang diperburuk oleh pertumbuhan bakteri yang berlebihan.


Prosedur profesional

Dalam beberapa kasus, dokter kulit mungkin merekomendasikan perawatan di klinik untuk mengatasi jerawat hormonal yang membandel dengan lebih baik dan memperbaiki penampilan kulit. Prosedur ini dapat mengurangi peradangan, membunuh bakteri penyebab jerawat, dan memperbaiki tekstur kulit secara keseluruhan. Contohnya meliputi:

  • Terapi laser: Terapi laser digunakan dalam perawatan jerawat hormonal untuk menargetkan bakteri, mengurangi peradangan, dan memperbaiki bekas jerawat.
  • Pengelupasan kimia: Agen ini mengandung bahan kimia seperti asam salisilat atau asam glikolat untuk mengelupas kulit dan membuka pori-pori.
  • Terapi cahaya: Menggunakan cahaya biru dan cahaya merah, terapi cahaya membunuh bakteri, mengurangi peradangan dan mendukung penyembuhan.

Meskipun perawatan medis seringkali diperlukan untuk mengatasi jerawat hormonal, kebiasaan sehari-hari dan tindakan pencegahan juga dapat memberikan dampak yang signifikan. Pendekatan yang konsisten terhadap perawatan kulit, pengaturan pola makan, dan manajemen stres membantu mengurangi jerawat dan menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.

Perawatan Kulit

Rutinitas perawatan kulit yang konsisten sangat penting untuk menjaga pori-pori tetap bersih dan mengurangi jerawat. Menggunakan produk yang tepat membantu mengontrol minyak, menghilangkan kotoran, dan melindungi lapisan kulit. Langkah-langkah kuncinya meliputi:

  • Menggunakan pembersih ringan dan non-komedogenik dengan bahan-bahan seperti asam salisilat
  • Memasukkan eksfoliasi lembut 2–3 kali seminggu dengan AHA atau BHA (eksfoliator kimia yang mengangkat sel kulit mati)
  • Menerapkan produk perawatan seperti retinoid atau benzoil peroksida untuk mengatur pergantian kulit dan menargetkan bakteri
  • Memilih pelembab yang ringan dan bebas minyak untuk menjaga hidrasi
  • Mengenakan tabir surya setiap hari (SPF 30 atau lebih tinggi) untuk melindungi dari kerusakan dan mencegah bekas jerawat


Diet

Pilihan makanan berperan penting dalam keseimbangan hormon dan tingkat keparahan jerawat. Makanan tertentu dapat memicu lonjakan insulin atau peradangan, sementara makanan lain mendukung kadar gula darah yang lebih stabil dan mengurangi peradangan. Beberapa modifikasi pola makan yang dapat membantu mendapatkan kulit yang lebih bersih adalah:

  • Mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah seperti biji-bijian utuh, buah-buahan, dan kacang-kacangan untuk mencegah kenaikan gula darah yang cepat
  • Termasuk lemak sehat yang kaya omega-3, seperti ikan, kenari, dan biji rami, yang membantu mengurangi peradangan
  • Menghindari atau membatasi produk susu, karena dapat memperburuk jerawat pada beberapa individu
  • Mengurangi makanan manis dan makanan olahan yang meningkatkan kadar insulin dan androgen, yang keduanya dapat memicu jerawat


Manajemen stres

Stres merupakan pemicu umum jerawat hormonal, karena mengganggu keseimbangan hormon dan meningkatkan peradangan. Mengelola stres mendukung stabilitas hormon dan kesehatan kulit. Strategi-strategi yang bermanfaat untuk meredakan stres antara lain:

  • Melakukan mindfulness atau meditasi untuk menenangkan sistem saraf dan menurunkan tingkat stres
  • Melakukan olahraga sedang setidaknya 150 menit setiap minggu untuk mengatur hormon dan meningkatkan sirkulasi
  • Prioritaskan 7–9 jam tidur berkualitas setiap malam untuk mengembalikan keseimbangan hormon dan mengurangi peradangan

Apa perbedaan antara jerawat biasa dan jerawat hormonal?

Jerawat adalah gangguan inflamasi pada unit pilosebasea, yang terdiri dari folikel rambut dan kelenjar sebasea yang terkait. Patogenesisnya kompleks dan melibatkan berbagai faktor yang saling berinteraksi, termasuk stimulasi kelenjar sebasea yang dimediasi androgen, proliferasi bakteri (Bakteri Cutibacterium acnes), penumpukan sel kulit mati, dan berbagai pengaruh genetik dan gaya hidup.

Di sisi lain, jerawat hormonal dipicu oleh fluktuasi kadar hormon. Jerawat ini biasanya muncul sebagai kista atau nodul yang dalam dan nyeri di sepanjang garis rahang, dagu, dan wajah bagian bawah. Jerawat ini sering muncul secara siklis selama menstruasi, kehamilan, menopause, atau pada kondisi seperti PCOS, dan paling baik ditangani dengan terapi hormonal, obat resep, dan penyesuaian gaya hidup. Buat janji temu dengan kami hari ini jika Anda menduga Anda menderita jerawat hormonal.

Berapa lama jerawat hormonal bertahan?

Jerawat hormonal dapat bertahan selama beberapa minggu hingga bulan, tergantung pada fluktuasi hormon yang mendasarinya dan faktor individu. Dengan rencana perawatan yang tepat, perbaikan yang nyata biasanya terlihat dalam 8 hingga 16 minggu.

Apakah jerawat hormonal merupakan tanda menopause?

Ya, jerawat hormonal bisa menjadi tanda menopause. Menjelang menopause, tubuh wanita mengalami transisi hormonal bertahap yang disebut perimenopause, di mana kadar estrogen menurun lebih cepat daripada testosteron. Kelebihan testosteron ini dapat meningkatkan produksi sebum, menyumbat pori-pori, dan memicu jerawat. 

Meskipun dapat membuat frustrasi, jerawat menopause umum terjadi dan dapat diatasi melalui kombinasi penyesuaian gaya hidup, perubahan perawatan kulit, dan perawatan seperti obat topikal atau oral, dan dalam beberapa kasus, terapi hormon menopause untuk mengembalikan keseimbangan hormon.

Bisakah jerawat hormonal hilang dengan sendirinya?

Jerawat hormonal tidak selalu hilang dengan sendirinya. Meskipun beberapa orang mungkin merasakan perbaikan seiring waktu, jenis jerawat ini seringkali persisten dan biasanya memerlukan perawatan yang tepat sasaran agar dapat ditangani secara efektif. Mencari pengobatan sejak dini penting untuk mengendalikan jerawat dan mengurangi risiko bekas jerawat, yang mungkin lebih sulit diatasi di kemudian hari.

Kapan saya harus menemui dokter untuk jerawat hormonal?

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika jerawat hormonal Anda menetap, memburuk, atau tidak merespons pengobatan bebas. Bantuan profesional juga disarankan untuk jerawat sedang hingga parah, seperti kista yang dalam atau lesi yang meradang, yang dapat menyebabkan jaringan parut jika tidak ditangani.

Selain itu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter jika jerawat memengaruhi harga diri atau menyebabkan rasa sakit. Anda dapat mencari panduan tentang pilihan pengobatan yang aman dan efektif, termasuk obat resep, terapi hormon, atau prosedur lanjutan seperti terapi laser atau cahaya. Jika jerawat Anda tidak kunjung membaik, pemesanan konsultasi mencari saran sejak dini dapat membantu mencegah masalah kulit jangka panjang dan mendapatkan kulit yang lebih bersih dan sehat.

Penafian 
Informasi ini disediakan untuk tujuan edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan saran medis yang dipersonalisasi. Silakan berkonsultasi dengan dokter Anda untuk mendapatkan panduan tentang pengobatan yang mungkin tepat untuk Anda.

Ditulis oleh Dr. Linsey Gani

Foto profil Dr. Linsey

Dokter Linsey Gani adalah seorang ahli endokrinologi yang berpengalaman dalam menangani kondisi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, termasuk yang memengaruhi kesuburan, kesehatan menstruasi, dan fungsi reproduksi. Dr. Gani menyelesaikan residensinya di Melbourne, Australia. Beliau adalah anggota Royal Australian College of Physicians dan Academy of Medicine, Singapura.